Lompat ke isi utama

Kanker Serviks

admin
Comment:0

Definisi dan Informasi Umum

Kanker serviks merupakan kanker nomor tiga terbanyak dan salah satu penyebab kematian tersering pada perempuan. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 500.000 kasus kanker serviks baru di seluruh dunia dan sebagian besar terjadi pada negara berkembang. Meski demikian, selama 40 tahun belakangan ini lajur mortalitis kanker serviks semakin berkurang akibat adanya pemeriksaan skrining pap smear. 

Penyakit ini banyak ditemukan pada golongan sosioekonomi rendah, perempuan yang memulai aktivitas seksual dini, pasangan seksual yang sering berganti, dan perokok. 

Etiologi 

Kanker serviks merupakan penyakit yang multifaktorial. Penyebab utama dari kanker serviks adalah infeksi dari human papilloma virus (HPV). HPV merupakan virus dengan DNA berantai ganda. Terdapat dua macam jenis HPV, risiko rendah dan risiko tinggi. Kebanyakan kasus kanker serviks disebabkan HPV yang berisiko tinggi yaitu HPV tipe 16 dan 18. 

HPV tipe 16 dan 18 menghasilkan pengikatan protein yang menyebabkan efek karsinogenik. Adanya infeksi virus HPV menyebabkan mutasi pada sel sehat di serviks sehingga pertumbuhan sel abnormal dan berkembang menjadi kanker.

Transmisi HPV biasanya terjadi akibat kontak seksual dan organ yang paling berisiko untuk mengalami infeksi virus ini adalah zona transformasi yang ada di serviks. Namun tidak semua yang mengalami inveksi HPV mengalami kanker. Setelah individu terinfeksi HPV, maka dapat terjadi infeksi lokal dan stabil, membaik secara spontan, atau berkembang menjadi lesi derajat rendah. Diperkirakan dari 1 juta perempuan yang terinfeksi, hanya 10% diantaranya yang berkembang menjadi les pra-kanker. 

Tanda dan Gejala

Biasanya pada pasien tidak ditemukan gejala dan penyakit ditemukan pada pemeriksaan rutin. Adapun gejala klinis yang dapat ditemukan mencakup perdarahan abnormal atau perdarahan pasca senggama yang dapat berkembang menjadi perdarahan intermenstrual atau menstrual. Terdapat juga keluhan nyeri ketika senggama, duh tubuh yang bau, nyeri abdomen, edema ekstremitas bawah, dan gangguan berkemih. 

Selain tanda dan gejala, perlu juga diketahui faktor risiko yang berhubungan dengan kanker serviks seperti hubungan seksual dini, kebiasaan berganti pasangan seksual, kontak seksual dengan orang berisiko tinggi (seperti penderita HIV atau pelaku praktik prostitusi), riwayat keganasan di dalam keluarga, merokok, dan kondisi imunosupresi. 

Diagnosis

Diagnsos kanker serviks didapatkan melalui serangkaian pemeriksaan klinis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan ginekologik termasuk evaluasi kelenjar getah bening, pemeriksaan panggul, dan pemeriksaan rektal. Pasien biasanya menjalani pemeriksaan awal atau skrining dengan metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) atau pap smear. Hasil negatif akan mengeksklusi kemungkinan keganasan dan les pra-kanker, sedangkan hasil positif diperlukan pemeriksaan biopsi dengan kolposkopi. Baku emas diagnosis dengan melakukan pemeriksaan histopatologis pada biopsi jaringan serviks. 

Tes pap smear merupakan metode skrining yang saat ini paling diandalkan. Pap smear direkomendasikan untuk dilakukan saat mulai melakukan aktivitas seksual atau setelah menikah. Pada tahun pertama baiknya dilakuan pemeriksaan sebanyak 3 kali. Setelah itu interval dapat lebih panjang menjadi 3-5 tahun sekali. 

Pemeriksaan radiologik berupa foto paru, pielografi intravena, atau CT-Scan merupakan pemeriksaan untuk melihat perluasan penyakit dan menyingkirkan kemungkinan obstruksi ureter. Pemeriksaan laboratorium klinik seperti pemeriksaan darah tepi, fungsi ginjal, dan fungsi hati diperlukan untuk mengevaluasi fungsi organ dan menentukan pengobatan. 

Tata Laksana

Penatalaksanaan lesi prakanker serviks dapat meliputi observasi saja, medikamentosa, terapi destruksi, dan/atau terapi eksisi sesuai dengan derajat penyakitnya. Tindakan observasi dilakukan pada hasil tes pap smear lesi derajat rendah. Sementara itu, terapi destruksi (seperti krioterapi) dan terapi eksisi (seperti diatermi loop) dapat dilakukan baik pada lesi derajar rendah dan tinggi. Terapi destruksi tidak mengangkat lesi, tetapi terapi eksisi ada spesimen yang diangkat. 

Secama umum, tata laksana kanker serviks mencakup operasi, radioterapi, atau kombinasi kemoterapi-radioterapi. Pemilihan tata laksana  tersebut disesuaikan dengan stadium penyakit. 

Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi yang timbul pada kanker serviks dapat berasal dari penyakit itu sendiri atau sebagai akibat dari pengobatan yang dilakukan. Komplikasi yang dapat timbul antara lain: rasa sakit, gagal ginjal, perdarahan, fistula, menopause dini, dan penyempitan vagina. 

Keberhasilan terapi lesi pra-kanker dapat mendekati 100%. Namun, pada kanker serviks stadium I, angka 5-year-surviral mencapai 85%, stadium II sebanyak 65%, stadium III sebanyak 35%, dan apabila sudah metastasis jauh (stadium IV) mencapai 7%. 

Referensi:

  1. Cervical cancer - Symptoms and causes - Mayo Clinic
  2. Cervical cancer - Complications - NHS (www.nhs.uk)
  3. PNPKServiks.pdf (kemkes.go.id)
  4. Anwar M, Baziad A, Prabowo P. Ilmu Kandungan. 3rd Ed. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2011.


 

Banner Ajakan Ayo Pakai Masker